Jumat, 30 November 2012

Mengertilah


Berkali-kali kuambil handphone yang ku taruh dalam tas, berharap ada pesan singkat darimu. Berjam-jam ku tunggu kabar darimu, berkhayal handphone ku berdering karena ulahmu. Tergopoh-gopoh tiap kali robot kecil itu berbunyi, aku pikir kamu dan ternyata bukan. Terbaliklah senyumku seketika L


“Kamu lagi dimana?”

“Sama siapa?”

“Sedang apa?”

“Sudah makan?”

Aku khawatir, mengertilah...


Berharap angin dapat menjawab semua pertanyaanku, segala gunda gulana akan terpecah. Aku cemas memikirkanmu, bahkan kecemasan itu berlomba dengan gerak jarum jam. Tiap menit, tiap detik, tak ada hentinya aku memikirkanmu. Harus berapa kali aku menghubungi dan menanyakan terlebih daluhu, hingga kamu benar-benar bosan tuk membaca ocehanku.


Aku malu jika terus menerus menanyakanmu, aku siapamu? Ibumu? Pacarmu? Yang pasti tak ada yang benar.


Akulah serpihan kisah masa lalumu
Yang sekedar ingin tahu keadaanmu
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
Mengganggu setiap ketentraman hidupmu
Hanya tak mudah bagiku lupakanmu
Dan pergi menjauh
Beri sedikit waktu
Agar ku terbiasa
Bernafas tanpamu


Dimanapun kamu berada do’a ku selalu menyertaimu, percayalah di setiap tengadahan tanganku masih ku selipkan namamu, di setiap sujudku.

Kamis, 29 November 2012

Beberapa jam sebelum sholat Jum'at


Hari ini kuliah pulang lebih awal, dikarenakan hari Jum’at. Setiap kaum Adam wajib mengikuti, maka dari itu kami dipulangkan lebih awal. Tugas demi tugas memberatkan kepala, yang satu belum kelar dan yang lainnya telah mengantri untuk dicumbui. Tiga hari lagi giliran kelompokku untuk maju mempresentasikan hasil pekerjaan. Tapi sayang tak ada kesiapan sama sekali, yang satu tak ada kabar dan yang satu lagi bersiap-siap untuk mudik. Memang temanku yang satu itu bukan warga asli Surabaya, dia menyewa sebuah kamar kecil yang kebetulan berada di samping kampus.

Perpustakaan, ditemani dua orang laki-laki yang kebetulan teman sekelasku juga. Sedikit merepotkan mereka, karena kupaksa untuk membantuku mengerjakan tugas. Jika tidak seperti ini lalu siapa lagi? Satu bangku panjang, 3 manusia, 3 benda robot kotak, dan beberapa tumpukan buku-buku. Alhamdulillah sedikit terbantu...

Ku tinggalkan perpustakaan dan bergegas untuk pulang, ku nyalakan mesin motorku dan tak lupa helm tlah terpasang diatas kepala. Ku gerakkan setir motor menuju arah gerbang, setiba disana ternyata gerbang ditutup. Alhasil aku tak dapat pulang, bukan hanya aku saja yang terjebak masih banyak motor-motor dan mobil-mobil lainnya. Kuparkirkan seenaknya, berjalan menuju ruang Referensi Fakultas Ekonomi.

Setiba disana ku buka tas kesayanganku, ku keluarkan mesin kotak berbentuk seperti buku. Laptop, biasa orang-orang menyebutnya. Kucicil satu persatu tugas makro ekonomi, hingga aku lupa tak menyapa senior-senior yang berada disampingku.

Mataku terlalu lelah menatap layar, kuedarkan kedua bola mataku ke sekeliling. Kulihat nampak seorang cowok tertidur pulas disudut ruang, berkemeja kotak-kotak dengan paras oriental. Kuamati dengan kenyang setiap lekuk tubuhnya, hidungnya mancung, matanya sipit, berkulit putih. Ahh manis sekali engkau siang ini, bibir merahmu terkatup dengan rapi, tak ada dengkuran yang terdengar.

Ingin rasanya mengenalmu, mengetahui siapa namamu, mungkin bisa lebih jauh dari itu. Apa harus ku tinggalkan nomor handphoneku disaku kemejamu? Agar jika kau terbangun kau dapat menghubungiku dan kita berkenalan.

Suara adzan yang sangat merdu membuyarkan pandanganku, dia terbangun dari mimpinya dan berlari kecil menuju masjid yang berada di halaman kampus.

Selasa, 27 November 2012

Suamimu, kekasihku...


Sebut saja Dita, dia adalah seorang teman baikku. Berawal darinya aku mengenal sosok itu. Sosok laki-laki dewasa yang beristri dan mempunyai seorang anak, sedikit kaku dan pekerja keras.

Sudah beberapa minggu Dita menjalin hubungan terlarang dengannya, Ryan nama laki-laki itu. Entah apa yang ada dipikiran Dita saat itu, cinta kah? Atau hanya tergiur harta semata? Tak munafik, Ryan termasuk dalam kategori laki-laki kaya. Menjadi orang penting disalah satu perusahaan rokok ternama, mobil, rumah mewah, semua ia punya. Sebagai sahabat yang baik, saat itu aku yang menjadi ‘peri’ bagi Dita. Aku lah yang selalu menasehatinya, agar tak terus-terusan berhubungan dengan Ryan. Dan alhasil sedikit demi sedikit mereka saling menjauh, bahkan lost contact.

Hanya dalam hitungan jari, tepatnya 4 kali. Tuhan mempertemukanku dengannya. Yang ku ingat terakhir kita bertatap muka di salah satu mall ternama di kotaku. Lama setelah pertemuan itu kita tak saling tatap, hingga pada akhirnya ketika aku bekerja di sebuah supermarket, kita dipertemukan lagi oleh waktu dan lagi-lagi Tuhan yang merencanakan pertemuan itu. Tapi sayang, laki-laki yang berada didepan mataku tak sendiri, melainkan bersama istrinya. Ku ambil saja kesempatan dalam kesempitan, ku tawarkan produk yang sedang ku jual, dan mereka segan untuk membelinya. Tak pernah terfikir sebelumnya, tiba-tiba dia meninggalkan istrinya yang sedang mendorong troli. Bersembunyi diantara rak rak yang tertata rapi, hanya untuk meminta nomor ponsel dan pin BlackBerryku. “OMG, jangan biarkan ini awal dari sebuah masalah besar.”

Dan, ketakutanku sedikit demi sedikit mempunyai titik terang. Hanya dari teman ngobrol hingga dekat seperti sekarang, bahkan ada hubungan spesial diantara kita. Apalah guna dulu aku menjadi ‘peri’ bagi Dita, dan sekarang aku menelan pil pahit.

“Good morning my LIGI”

Little Girl panggilan sayang untukku, hampir setiap pagi sapaan itu menghiasi ponselku. Untuk saat ini memang aku nyaman dengannya, bahkan mencintainya, meski dia bukan termasuk tipe lelaki idamanku. Hari demi hari, minggu ke minggu bahkan berganti bulan, kita masih mengumpat dibalik ibu seorang anak laki-laki. Bercengkrama dibalik kejahatan. Aku paham jika ini berdosa, tapi ini cinta. Tak jauh beda dengan dosa.

Aku menikmati hubungan ini, meskipun terkadang tak dapat bebas jika berada diluar dengannya. Wajar saja, karena dia suami orang terlebih ayah dari seorang anak yang tak berdosa. Pernah beberapa kali aku berfikiran tuk menjauh dari semua ini, bahkan melupakannya. Tapi aku tak pernah berhasil, lagi-lagi dia mengejarku dan memaksaku tuk tetap tinggal.



Disini aku tak merusak, tapi mencintai. Bukan cara ku mencintaimu yang keliru, tapi posisiku yang salah.

Minggu, 18 November 2012

senjaku


Suara petir menggelegar, langit tiba-tiba menghitam.
Gemercik hujan bersenandung disusul oleh tarian badai.
Nampak jepretan putih dibalik jendela.

Hujan dimalam ini mengingatkanku akan sosokmu, sepotong senja yang memerah.
Sudah berapa dekade kita tak saling tatap? menikmati secangkir kopi ditempat favorit kita dulu.
Bercengkrama memadu kisah, hingga aku lupa jika kekasihmu menanti dirumah.

Ada hal yang lebih hangat dari secangkir kopi yang biasa kita nikmati, kamu tau apakah itu?
Ya, ketika siku kita saling bersentuhan, ketika nafasmu dapat kurasakan dibalik rambutku yang tergurai.
Aroma tubuhmu bercampur keringat menusuk-nusuk dilubang hidung, senyum nakalmu ketika kau mengusiliku.  
Aaaa ... aku tak akan lupa akan semua hal itu.

Maafkan aku jika malam ini aku tak dapat menahan rindu.
Inginku bertemu, menghabiskan malam hingga pagi menjelang bersamamu.
Seperti dulu... tertawa lepas, hanya bintang dan bulan yang dapat mengabadikan.


"apa kabar kamu senja kecilku?"
"masihkah engkau dalam pelukannya?"

Kamis, 15 November 2012

kesatria berkacamata


Entah ada apa dengan pria berkacamata, selalu membuat nafasku berjedah lebih lama. Mataku berhenti berkedip beberapa menit, ingus dan air ludah beradu kecepatan meluncur. Ahh sepertinya terlalu menjijikan...
Kamu, sosok yang baru ku kenal dari teman baikku. Orang baru yang mampu mengalihkan segalanya  dengan kesempurnaan yang kau miliki. Kamu lucu, mungkin lebih lucu dari badut Ancol. Berkacamata, kharismatik. Tapi sayang tak jago goyang itik!
Jika gatotkaca berkacamata, mungkin kamu adalah gatotkaca jaman sekarang. Dan jika Raditya Dika menjadi pelayan sebuah cafe, mungkin kamu juga orangnya. Sayangnya kamu tak pandai terbang dan membual seperti mereka. Kamu dingin, seperti es sinom menu andalan ditempatmu bekerja. Berbicara seadanya saja, tak membuka mulut jika tak diminta. Mungkin hanya sebatas menyapa dan tersenyum. Ahhh... haruskah aku terlebih dahulu yang meminta pin mu? Agar dapat menyimpan tiap tiap DP yang kau gonta-ganti, setidaknya kita dapat saling komunikasih. Menjadi lebih dekat mungkin...
Aku menyimpan sesuatu sejak kau begadang lucu dirumahku, sejak kau datang dan membuka sepatu, hingga kau pakai sepatumu lagi dan berpamitan pulang. Apa harus aku datang ketempatmu bekerja jika aku rindu? Memesan dan kamu yang melayani. Sayangnya aku tak suka itu, sesekali aku dan kamu yang menjadi tamu. Dinner berdua satu meja misalnya :3
Ditulis dengan detak jantung yang membahana, menggelegar seangkasa,
Selamat pagi kesatria berkacamata.

yang kutahu, aku mencintaimu.


Jangan tanyakan padaku,

“mengapa aku mencintaimu?”
“mengapa aku memilihmu?” dan
“mengapa aku bertahan dalam posisi ini?”

Aku sendiri tak mengerti dan tak tahu apa yang harus kujabarkan tentang itu semua. Yang aku tahu AKU MENCINTAIMU, MENERIMA SEGALA KEKURANGANMU. Terlebih menerima kenyataan jika ada nama lain yang telah mengisi hatimu. Bodoh memang, mencintai seseorang yang telah berkekasih. Berbagi cinta dengan orang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Bermula dengan kebohongan, dan aku menerimanya dengan ikhlas.

Tidak semua wanita rela berbagi, menunggu sang kekasih bercumbu dengan kekasihnya, menahan rindu jika ia sedang bersamanya, bersembunyi diantara khalayak. Bahkan sedikit tak diakui. Banyak yang mencibirku tentang keputusan yang kupilih, mencintaimu dan harus berbagi dengannya. Tapi inilah cinta, tentang perasaan. Aku tak peduli dengan kicauan mereka, tak peduli dengan nasehat mereka. Karna yang aku tahu AKU MENCINTAIMU!!!

Abstrak memang, bertahan untuk sesuatu yang tak pasti, tak ada titik temu dan tujuan.

Sesekali terbesit dalam lamunan, ingin ku memaksamu tuk memilih. Tapi apalah daya, aku yang datang terlambat sebelum dia, aku onar dari ini semua. Aku yang berdosa dan kamu juga dalang dibalik ini semua. Aku tak ingin ini semua berakhir secepat membalikkan telapak tangan, karna aku masih ingin menjagamu, memelukmu dengan hatiku.

Suatu hari aku mencoba mencari sandaran lain, untuk menutupi perih ini. Dan besar kemungkinan jika ia mampu memberiku manis lebih dari yang engkau suguhkan, maka aku akan meninggalkan dosa dan kesakitan. Namun aku gagal, karena cinta tak dapat berpindah semudah itu.

Sekali lagi aku tegaskan, AKU MENCINTAIMU! Dan hanya kamu seorang yang menempati ruang dihati ini, tak ada nama lain. HANYA KAMU!


Teruntuk priaku yang masih dalam pelukkannya =)

Rabu, 14 November 2012

Apakah ini yang dinamakan engkau mencintaiku?


Apakah ini yang dinamakan engkau mencintaiku? Dengan menyakiti dan membiarkanku menangis dalam hati. Tak nampak memang air mataku, tapi coba kau rasakan dengan hati. Sengaja aku berlindung kepada hujan, agar tetesan airmata yang membasahi pipiku tak dapat kau lihat.
Entah kepuasan apa yang kau peroleh, kesenangan batinkah? Atau memang kau benar-benar dilema? Siapa sebenarnya yang engkau cintai? Aku ataukah dia? Cinta, sayang, perhatian, kasihan, ataukah hanya ambisi semata? Yang jelas semua itu berbeda.
Sampai kapan engkau berjalan dengan dua hati? Berbagi waktu dan berbagi cinta. Apa kau tak terepotkan dengan ini semua?

Senin, 12 November 2012

dipisahkan hanya karena kita berbeda

jika berjalan mundur ke beberapa bulan yang lalu
ketika aku dan kamu masih menjadi kita
disaat salibmu dan tasbihku masih menyatu
Tuhanmu dan Tuhanku

saling mendoakan satu sama lain
ku sebut namamu dalam sujudkku
kau bawa namaku dalam lipatan tanganmu
meski kita memanggilNya dengan nama yang berbeda

bukankah Tuhan menciptakan cinta agar yang berbeda-beda bisa menyatu?
lalu mengapa kita dilarang?
apa salahmu? apa salahku?
padahal kita saling mencintai dan menghormati

Tuhan, beritahu kami tentang arti larangan ini
jelaskan pada kami dan mereka mengapa kita tak dapat bersatu
kita bukan pasangan teroris yang harus dipandang sebelah mata
apa salahnya wanita berhijab berjalan dengan pria berkalung salib?

Kamis, 08 November 2012

calon kekasih sahabatku

Kau bercerita, aku mendengarkan.
Kau bahagia, aku yang terluka.
Dia yang ku puja, dia yang akan jadi milikmu.

Dia yang ku kenal lebih dulu, sebelum ku mengenalmu.
Dia yang ku cinta, sebelum kau menjadi temanku.
Dia mencintaimu, begitu pula denganmu.

Aku adalah tangis dibalik kebahagiaan kalian.
Engkau senang, begitu pula denganku.
Tapi itu semua hanya sandiwara semata, karna
Senyum kalian adalah tangisku.

Topeng yang kupakai tak selamanya dapat menutupi sedihku.
Aku tak sanggup jika harus berpura-pura.
Menahan senyuman dibalik airmata.