Hari ini kuliah pulang
lebih awal, dikarenakan hari Jum’at. Setiap kaum Adam wajib mengikuti, maka dari
itu kami dipulangkan lebih awal. Tugas demi tugas memberatkan kepala, yang satu
belum kelar dan yang lainnya telah mengantri untuk dicumbui. Tiga hari lagi giliran
kelompokku untuk maju mempresentasikan hasil pekerjaan. Tapi sayang tak ada kesiapan
sama sekali, yang satu tak ada kabar dan yang satu lagi bersiap-siap untuk
mudik. Memang temanku yang satu itu bukan warga asli Surabaya, dia menyewa
sebuah kamar kecil yang kebetulan berada di samping kampus.
Perpustakaan, ditemani
dua orang laki-laki yang kebetulan teman sekelasku juga. Sedikit merepotkan
mereka, karena kupaksa untuk membantuku mengerjakan tugas. Jika tidak seperti
ini lalu siapa lagi? Satu bangku panjang, 3 manusia, 3 benda robot kotak, dan
beberapa tumpukan buku-buku. Alhamdulillah sedikit terbantu...
Ku tinggalkan perpustakaan
dan bergegas untuk pulang, ku nyalakan mesin motorku dan tak lupa helm tlah
terpasang diatas kepala. Ku gerakkan setir motor menuju arah gerbang, setiba disana
ternyata gerbang ditutup. Alhasil aku tak dapat pulang, bukan hanya aku saja
yang terjebak masih banyak motor-motor dan mobil-mobil lainnya. Kuparkirkan seenaknya,
berjalan menuju ruang Referensi Fakultas Ekonomi.
Setiba disana ku buka
tas kesayanganku, ku keluarkan mesin kotak berbentuk seperti buku. Laptop,
biasa orang-orang menyebutnya. Kucicil satu persatu tugas makro ekonomi,
hingga aku lupa tak menyapa senior-senior yang berada disampingku.
Mataku terlalu lelah
menatap layar, kuedarkan kedua bola mataku ke sekeliling. Kulihat nampak
seorang cowok tertidur pulas disudut ruang, berkemeja kotak-kotak dengan paras
oriental. Kuamati dengan kenyang setiap lekuk tubuhnya, hidungnya mancung,
matanya sipit, berkulit putih. Ahh manis sekali engkau siang ini, bibir merahmu
terkatup dengan rapi, tak ada dengkuran yang terdengar.
Ingin rasanya
mengenalmu, mengetahui siapa namamu, mungkin bisa lebih jauh dari itu. Apa
harus ku tinggalkan nomor handphoneku disaku kemejamu? Agar jika kau terbangun
kau dapat menghubungiku dan kita berkenalan.
Suara adzan yang sangat
merdu membuyarkan pandanganku, dia terbangun dari mimpinya dan berlari kecil menuju
masjid yang berada di halaman kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar