Kamis, 29 November 2012

Beberapa jam sebelum sholat Jum'at


Hari ini kuliah pulang lebih awal, dikarenakan hari Jum’at. Setiap kaum Adam wajib mengikuti, maka dari itu kami dipulangkan lebih awal. Tugas demi tugas memberatkan kepala, yang satu belum kelar dan yang lainnya telah mengantri untuk dicumbui. Tiga hari lagi giliran kelompokku untuk maju mempresentasikan hasil pekerjaan. Tapi sayang tak ada kesiapan sama sekali, yang satu tak ada kabar dan yang satu lagi bersiap-siap untuk mudik. Memang temanku yang satu itu bukan warga asli Surabaya, dia menyewa sebuah kamar kecil yang kebetulan berada di samping kampus.

Perpustakaan, ditemani dua orang laki-laki yang kebetulan teman sekelasku juga. Sedikit merepotkan mereka, karena kupaksa untuk membantuku mengerjakan tugas. Jika tidak seperti ini lalu siapa lagi? Satu bangku panjang, 3 manusia, 3 benda robot kotak, dan beberapa tumpukan buku-buku. Alhamdulillah sedikit terbantu...

Ku tinggalkan perpustakaan dan bergegas untuk pulang, ku nyalakan mesin motorku dan tak lupa helm tlah terpasang diatas kepala. Ku gerakkan setir motor menuju arah gerbang, setiba disana ternyata gerbang ditutup. Alhasil aku tak dapat pulang, bukan hanya aku saja yang terjebak masih banyak motor-motor dan mobil-mobil lainnya. Kuparkirkan seenaknya, berjalan menuju ruang Referensi Fakultas Ekonomi.

Setiba disana ku buka tas kesayanganku, ku keluarkan mesin kotak berbentuk seperti buku. Laptop, biasa orang-orang menyebutnya. Kucicil satu persatu tugas makro ekonomi, hingga aku lupa tak menyapa senior-senior yang berada disampingku.

Mataku terlalu lelah menatap layar, kuedarkan kedua bola mataku ke sekeliling. Kulihat nampak seorang cowok tertidur pulas disudut ruang, berkemeja kotak-kotak dengan paras oriental. Kuamati dengan kenyang setiap lekuk tubuhnya, hidungnya mancung, matanya sipit, berkulit putih. Ahh manis sekali engkau siang ini, bibir merahmu terkatup dengan rapi, tak ada dengkuran yang terdengar.

Ingin rasanya mengenalmu, mengetahui siapa namamu, mungkin bisa lebih jauh dari itu. Apa harus ku tinggalkan nomor handphoneku disaku kemejamu? Agar jika kau terbangun kau dapat menghubungiku dan kita berkenalan.

Suara adzan yang sangat merdu membuyarkan pandanganku, dia terbangun dari mimpinya dan berlari kecil menuju masjid yang berada di halaman kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar