Berkali-kali kuambil
handphone yang ku taruh dalam tas, berharap ada pesan singkat darimu. Berjam-jam
ku tunggu kabar darimu, berkhayal handphone ku berdering karena ulahmu. Tergopoh-gopoh
tiap kali robot kecil itu berbunyi, aku pikir kamu dan ternyata bukan. Terbaliklah
senyumku seketika L
“Kamu lagi dimana?”
“Sama siapa?”
“Sedang apa?”
“Sudah makan?”
Aku khawatir,
mengertilah...
Berharap angin dapat
menjawab semua pertanyaanku, segala gunda gulana akan terpecah. Aku cemas
memikirkanmu, bahkan kecemasan itu berlomba dengan gerak jarum jam. Tiap menit,
tiap detik, tak ada hentinya aku memikirkanmu. Harus berapa kali aku
menghubungi dan menanyakan terlebih daluhu, hingga kamu benar-benar bosan tuk
membaca ocehanku.
Aku malu jika terus
menerus menanyakanmu, aku siapamu? Ibumu? Pacarmu? Yang pasti tak ada yang
benar.
Akulah serpihan
kisah masa lalumu
Yang sekedar ingin
tahu keadaanmu
Tak pernah aku
bermaksud mengusikmu
Mengganggu setiap
ketentraman hidupmu
Hanya tak mudah
bagiku lupakanmu
Dan pergi menjauh
Beri sedikit waktu
Agar ku terbiasa
Bernafas tanpamu
Dimanapun kamu berada do’a
ku selalu menyertaimu, percayalah di setiap tengadahan tanganku masih ku
selipkan namamu, di setiap sujudku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar