Jumat, 21 Desember 2012

Selamat hari ibu.


Di gopohkan oleh tumpukan-tumpukan tugas, hingga susah bernafas dikejar deadline. Aku bosan, ku mainkan Smart Phoneku. Ku baca berulang-ulang Recent Update, semuanya sama, masih tentang ibu. Yang memang sekarang tepat tanggal 22 Desember, dimana semua orang didunia memperingati hari ini sebagai “Hari Ibu”. Ada yang berbeda dengan salah satu display picture yang kulihat, ku perbesar dan ku pandangi dengan seksama. Tiba-tiba tubuhku gemetar, airmata menetes membasahi kedua pipiku. Foto seorang sahabatku bersama ibunya sebelum beliau pergi dan tak kembali. Muncul banyak pertanyaan dan ketakutan ketika mataku memfokuskan pandangannya ke arah dua manusia yang sedang berpelukan dalam foto itu. Aku membayangkan jika dalam foto itu, aku dan ibuku.

Apakah aku akan kuat dan tegar?
Apakah aku bisa melanjutkan hidup tanpa beliau?
Siapa yang akan mengurus Ayah dan Adikku?
Siapa yang akan memasak makanan untuk kami?
Siapa yang akan menggedor-gedor pintu kamar ketika bangunku kesiangan?
Siapa yang akan menungguku sepulang bermain hingga larut malam?
Siapa yang akan bingung mencarikan paracetamol jika aku demam?
Siapa yang akan mengobati lukaku ketika aku jatuh dari motor?
Siapa yang akan mencuci dan menyetrika bajuku?
Siapa yang akan memelukku dan mengusap airmataku ketika hatikuku dilukai oleh laki-laki?
Siapa yang akan menggerutu jika aku melakukan kesalahan?
Dan masih banyak lainnya, aku belum siap kehilanganmu Bu.

Terlalu banyak tuntutan yang aku pinta, sedangkan aku tak pernah sedikitpun membuatnya bahagia. Hingga sampai detik ini, aku belum dapat menjadi kebangaannya. Mungkin esok, kelak, atau tidak sama sekali. Kasih sayangnya sangat besar kepadaku, tak ada uang atau emas yang mampu menghargai. Jika menabung mulai sekarang, tak akan ada satupun ‘celengan’ berbentuk ayam ataupun Bank yang mampu menampung untuk membalas kasih sayangnya. Segala yang dikorbankan selama ini, sedikitpun tak pernah beliau minta, semua dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Tanpa mengharap suatu imbalan.

Hanya ada kado sederhana malam ini, dan kecupan  yang mungkin tak dapat meneduhkan bola matanya. Sebelum ku daratkan bibirku ke atas keningnya, kupandangi wajahnya terlebih dahulu. Semakin banyak keriputan di paras cantiknya, dan uban di rambutnya sudah tak dapat dihitung dengan hitungan jari. Ia semakin menuah, semakin rentah.

Maafkan aku yang sering membuatmu gelisah, kecewa, bahkan menitihkan air mata.

Kau adalah “surga berjalan” bagi kami, anak-anakmu.

Selamat hari ibu, untukmu wanita-wanita yang membawah surga dibawah telapak kaki.

Senin, 17 Desember 2012

Angin.

Kau gugurkan aku dari persinggahanku
Kau jatuhkanku ke tanah
Terinjak dan tersengat surya
Lalu kau tiup lagi ke udara
Terbang tuk sementara
Naik-turun tak beraturan
Sesekali tubuhku terbentur bebatuan
Hingga, hembusanmu berakhir pada lautan
Yang menenggelamkan ku

Aku adalah daun kering
Dan kamu adalah angin

Minggu, 09 Desember 2012

Jaket merah.


Langit nampak gelap, gemuruh petir bersahutan. Hujan membasahi tempatku berpijak. Ku urungkan niatku untuk pulang, aku tak rela tubuhku dijamah oleh tetesan hujan. Dilantai dua tempatku menimba ilmu, kelas paling dekat dengan tangga. Tak ada kegiatan yang dapat ku lakukan selain mengotak atik handphone kesayanganku, jarang sekali dia lepas dari genggamanku. Aku bosan, ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ku dapati kesatria turun dari anak tangga, parasnya malaikatwi, rambutnya terhempas angin ke kanan ke kiri naik turun. Kharismanya membuat jantungku berdegup kencang, aku diam tak mampu berkata-kata. Tak perduli suara petir menyambar, aku tetap terpaku olehnya.

Siapakah engkau wahai pria berjaket merah?

Kamu


Malam itu, ditemani segelas kopi panas.

Kepulan asap rokok masih menghiasi pandanganku.

Kenikmatan kedua benda itu tak mampu menyingkirkan rasa rinduku.

Bayangmu masih kuat merasuki tiap-tiap pikiranku.

Sudah lima tahun kita berpisah, sudah puluhan kali aku mencoba hal-hal konyol untuk melupakanmu.

Hingga aku kehilangan cara, kau terlalu hebat mengendalikan raga ini.

Setia, untukmu yang mendua.


Bodohnya aku yang tetap setia, meskipun kau mendua. Pernah suatu hari engkau menyuruhku untuk mencari yang lebih baik, tapi maafkan aku. Aku tak dapat mewujudkan usulmu. Aku mecintaimu, meskipun kau selalu melukaiku. Sekuat hati, aku berusaha menjadi yang terbaik bagimu, meskipun lagi-lagi kau lumpuhkan aku dengan cintamu.

Setampan dan sesempurna apapun sosok yang berusaha mendekatiku, aku tak tergoda sama sekali. Aku setia, untukmu yang mendua. Hingga akhirnya aku yang kalah dan terluka. Engkau memilihnya, menghempaskan aku yang sedang terbang dinirwana. Padahal aku masih ingin berlama-lama menari bersama janji manismu.

(lagi-lagi) kamulah inspirasiku.

Sabtu, 08 Desember 2012

Selamat ulang tahun kekasihku.

Mimpi indahku dibuyarkan oleh denting alarm yang menjerit-jerit, semakin ia mendekati telinga, semakin ku dibuat kesal olehnya. Sial! Rupanya sudah pukul 10.00, seharusnya pagi ini aku berencana ke toko bunga, toko sepatu dan toko kue.

Setiba ditoko kue,
“mbak, kalau mau pesen rainbow cake untuk diambil nanti malem masih bisa kan mbak?”
“emm... sebentar ya mas”
“bisa kan mbak? Tolong saya mbak, saya butuh kue itu. Ntar malem jam 24.00 pacar saya berulang tahun yang ke 20”
“masih bisa kok mas, mau pesen berapa? Dikirim ke alamat mana?”
“satu saja mbak yang medium, nanti malem jam delapan aku ambil. Ohya, jangan lupa kasih tulisan HAPPY BIRTHDAY MY BELOVED, WITH LOVE DAMAR ya mbak”

Bunga mawar merah 20 tangkai sudah di tangan dan rainbow cake sudah dipesan. Masih kurang sepatu yang belum kudapat. Terakhir kali dia pernah bercerita jika ingin mempunyai sepatu boots berwarna coklat. Terik matahari semakin terasa sengit, meniup-niup kulit sawo matangku dengan panasnya yang membara. Berpindah dari mall ke mall, dan alhasil aku mendapatkan benda itu. Sepatu boots dengan warna coklat ukuran 37. Dibungkus dengan apik dan menarik, semoga dia menyukainya.

Akibat berkelana demi sepasang sepatu boots, pukul 21.15 aku baru tiba ditoko kue. Pintunya tertutup satu sisi, semua etalase berjajar rapi. Ku percepat langkah kakiku, untunglah masih ada satu karyawan di dalamnya. Dan kue berhasil ku bawa pulang.

Rambut, kemeja, hingga sepatu, semua sudah ku kenakan dengan rapi. Di depan cermin ku putar tubuhku ke kanan dan ke kiri. “Aku terlihat lebih tampan malam ini hehehe” pujiku dalam hati. Tak lupa, kusemprotkan parfum hampir kesekujur tubuh. Wangiku masih sama seperti dulu, tak pernah ku berpindah aroma. Sesuai dengan requestnya dulu.

Mobil telah siap ku tunggangi, semua barang-barang sudah siap didalamnya. Kutancap gas menuju rumahnya.

Tepat pukul 24.00, TEMPAT PEMAKAMAN UMUM PEGANGSAAN-MALANG.
Dengan senyum sumringah dan berjuta rindu, ku dekatkan langkahku menuju tempat peristirahatan terakhirmu. Gundukan tanah nomor lima dari depan, lurus dengan gerbang pintu masuk.

“selamat ulang tahun sayang, semoga kamu baik-baik saja disana.” Ku sandarkan 20 tangkai bunga mawar merah diatas batu nisannya, kado dan kue ku letakkan diatas tanah yang menyelimuti tubuhnya dari dingin malam. Ku biarkan lilin yang terdapat diatas kue tetap menyala, hingga angin yang mewakili nafasnya.

“aku kangen kamu” bisikku lirih. Lalu ku panjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa, yang terbaik untuknya.

Semoga kamu dapat melihat ini semua dari sana, jangan bersedih Tiara. Aku selalu mencintaimu, meski ragamu tak pernah memelukku ketika aku rindu.

“Maafkan aku harus meninggalkanmu lagi.”

Rabu, 05 Desember 2012

Prettt!


Kau bilang kau mencintaiku
Tapi mengapa kau meninggalkan ku
Hanya demi sebuah masalalu
Masalalu yang belum tentu membawamu ke masadepan

Ahh semua rayuanmu palsu!
Angin dan sampah belaka
Semua omonganmu tentang ini, itu
Hanyalah PRETTT belaka

Aku benci memujamu lagi
Tersenyum dalam bualanmu

Mungkin dengan melupakanmu adalah cara terbaik membunuhmu

Rindu


Rintik hujan masih bersahutan, bersenandung diatap rumahku. Kamar yang menghangatkan tubuhku, kini tak kurasa lagi. Angin menerobos disela-sela pintu dan jendela. Dingin seketika.
Tiba-tiba terdapat gambaran wajahmu ditiap-tiap sudut, aroma parfum yang biasa kau kenakan berlari-lari didepan lubang hidung. Aku masih hafal dengan bau itu. Sesekali ku mengedipkan mata dan menghela nafas panjang, berharap bayang-bayangmu hilang dari pandanganku. Satu, dua, tiga kali aku coba, tapi gambaran itu masih saja menari disudut-sudut kamar. Sepertinya malam ini (lagi-lagi) aku merindukanmu.

Senin, 03 Desember 2012

Bodoh


Tangannya menopang dagu
Tak ada titik fokus pada pandangannya
Kedua bola matanya berkaca-kaca
Kesedihan menghiasi paras tampannya

Secangkir kopi panas seketika berubah menjadi dingin
Asbak dan rokok yang masih menyala di biarkannya mati begitu saja

Dia berduka
Dia kehilangan
Kekasihnya pergi, untuk kekasih yang lain
Kesetiaan membodohinya
Menunggu dan menunggu
Berharap kekasihnya kembali

Bodoh, waktumu terbuang sia-sia
Hanya untuk menanti yang percuma
Mau sampai kapan kau berdiam disini?
Sampai kiamat?

Sabtu, 01 Desember 2012

Pagi itu


Ku buka pintu kamar, ku rebahkan tubuhku diatas kasur, sedikit lelah karena kewajiban. Ku nyalakan laptop di atas meja disudut kamar, ku putar deretan-deretan lagu sendu, yang kiranya dapat mengusap penatku. Ku raih handphone yang berada sejajar dengan kepala, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Seperti biasa, percakapanmu menemaniku dikala sepi. Kau bercerita tentang hubunganmu yang baru-baru ini berakhir, dua setengah tahun yang tlah usai. Sayangnya aku tak seberapa paham tentang siapa yang bersalah diantara kalian. Yang pasti semua telah tamat.

Memang akhir-akhir ini aku juga merasakan kegelisahan, tak enak makan, dan tidur. Belum genap seminggu dia meninggalkanku, sesorang yang sangat kucintai memilih tuk berjalan mundur dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Kita sama-sama butuh badut, sekiranya bergantian menghibur satu sama lain.

“keluar yuk?”

“kemana? Jam berapa ini?”

“cari tempat yang enak buat ngobrol, iya aku tau ini sudah pagi tapi aku butuh teman cerita, setidaknya sediakan telingamu untukku pagi ini.”

“yauda culik aku, aku tunggu ditempat biasa.”

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 wib, semua orang masih bergelut dengan mimpi mungkin sebagian ada juga yang berkeluh kesah dengan Tuhannya. Tak lama setelah aku berdiri menunggu dibawah pohon, sorot lampu motormu nampak dari kejauhan. Tak banyak basa-basi kitapun segera meninggalkan wilayah gubukku.

Jalanan yang masih basah akibat hujan yang mengguyur beberapa menit tadi, menemani perjalanan singkat kita menuju rumah makan cepat saji. Meja paling pojok, tempat paling nyaman untuk mengutarakan segala unek-unek yang mengganjal dihati. Selain jaraknya jauh dari pengunjung lainnya, terdapat juga colokan listrik untuk mengecas robot kotakku.

“ohya bagaimana dengan kekasihmu?.” Sebuah pertanyaan ku lontarkan tuk memulai sesi curhat.

Mulai dari awal hingga akhir ia ceritakan kronologisnya, sedikit miris tuk didengar. Dua tahun setengah hancur begitu saja, mungkin sepertinya tak dapat dipersatukan kembali. Sedikit kesimpulan tentang alasan mereka berakhir, karena waktu dan pengertian. Kesibukan yang membuat kekasihnya merasa terbagi, begitulah seorang pekerja jika berpacaran dengan gadis SMA. Kurang pengertian atau apalah aku sendiri tak sebegitu paham.

Mukanya kusut tak seperti kemarin-kemarin, mungkin beban yang ditumpu terlalu berat atau beberapa malam tak dapat tidur karena memikirkan sang kekasih. Beruntungnya dia mendapatkanmu, kamu yang terlihat hampir sempurna dalam penglihatanku. Andaikan kau berlabuh dihatiku mungkin tak akan ada kesedihan seperti ini, ku cintai dan kujaga kau dengan caraku yang pastinya tak dimiliki oleh orang-orang lain. Ya, dulu memang aku sempat menginginkanmu. Berharap kamu dan aku menjadi kita, bukan hanya teman disaat kegalauan melanda. Tapi itu dulu, entah sekarang?

Mulai dari gelap hingga sang fajar mulai mengintip keberadaan kita, dari puluhan pengunjung hingga sisa beberapa orang saja, dan dari percakapan hingga berkunjung ke “mbah google”. Aku mulai mengantuk dan sepertinya kamu juga, pukul 09.30 aku harus memulai pekerjaanku, dan kamu mengawalinya pukul 07.00. Tapi kedua-duanya tak ada yang mencicipi bunga tidur, karena jarak waktu yang sangat singkat.

05.15 kita sepakat meninggalkan rumah makan, kau antar aku menuju tempatku mengais rupiah.