Di gopohkan oleh tumpukan-tumpukan tugas, hingga susah
bernafas dikejar deadline. Aku bosan, ku mainkan Smart Phoneku. Ku baca
berulang-ulang Recent Update, semuanya sama, masih tentang ibu. Yang memang
sekarang tepat tanggal 22 Desember, dimana semua orang didunia memperingati
hari ini sebagai “Hari Ibu”. Ada yang berbeda dengan salah satu display
picture yang kulihat, ku perbesar dan ku pandangi dengan seksama. Tiba-tiba
tubuhku gemetar, airmata menetes membasahi kedua pipiku. Foto seorang sahabatku
bersama ibunya sebelum beliau pergi dan tak kembali. Muncul banyak pertanyaan
dan ketakutan ketika mataku memfokuskan pandangannya ke arah dua manusia yang
sedang berpelukan dalam foto itu. Aku membayangkan jika dalam foto itu, aku dan
ibuku.
Apakah aku akan kuat dan tegar?
Apakah aku bisa melanjutkan hidup tanpa beliau?
Siapa yang akan mengurus Ayah dan Adikku?
Siapa yang akan memasak makanan
untuk kami?
Siapa yang akan menggedor-gedor
pintu kamar ketika bangunku kesiangan?
Siapa yang akan menungguku
sepulang bermain hingga larut malam?
Siapa yang akan bingung mencarikan
paracetamol jika aku demam?
Siapa yang akan mengobati lukaku
ketika aku jatuh dari motor?
Siapa yang akan mencuci dan
menyetrika bajuku?
Siapa yang akan memelukku dan
mengusap airmataku ketika hatikuku dilukai oleh laki-laki?
Siapa yang akan menggerutu jika
aku melakukan kesalahan?
Dan masih banyak lainnya, aku
belum siap kehilanganmu Bu.
Terlalu banyak tuntutan yang aku
pinta, sedangkan aku tak pernah sedikitpun membuatnya bahagia. Hingga sampai
detik ini, aku belum dapat menjadi kebangaannya. Mungkin esok, kelak, atau
tidak sama sekali. Kasih sayangnya sangat besar kepadaku, tak ada uang atau
emas yang mampu menghargai. Jika menabung mulai sekarang, tak akan ada satupun
‘celengan’ berbentuk ayam ataupun Bank yang mampu menampung untuk membalas
kasih sayangnya. Segala yang dikorbankan selama ini, sedikitpun tak pernah
beliau minta, semua dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Tanpa mengharap suatu
imbalan.
Hanya ada kado sederhana malam
ini, dan kecupan yang mungkin tak dapat
meneduhkan bola matanya. Sebelum ku daratkan bibirku ke atas keningnya,
kupandangi wajahnya terlebih dahulu. Semakin banyak keriputan di paras
cantiknya, dan uban di rambutnya sudah tak dapat dihitung dengan hitungan jari.
Ia semakin menuah, semakin rentah.
Maafkan aku yang sering membuatmu
gelisah, kecewa, bahkan menitihkan air mata.
Kau adalah “surga berjalan” bagi
kami, anak-anakmu.
Selamat hari ibu, untukmu
wanita-wanita yang membawah surga dibawah telapak kaki.
novi
BalasHapus