Jumat, 21 Desember 2012

Selamat hari ibu.


Di gopohkan oleh tumpukan-tumpukan tugas, hingga susah bernafas dikejar deadline. Aku bosan, ku mainkan Smart Phoneku. Ku baca berulang-ulang Recent Update, semuanya sama, masih tentang ibu. Yang memang sekarang tepat tanggal 22 Desember, dimana semua orang didunia memperingati hari ini sebagai “Hari Ibu”. Ada yang berbeda dengan salah satu display picture yang kulihat, ku perbesar dan ku pandangi dengan seksama. Tiba-tiba tubuhku gemetar, airmata menetes membasahi kedua pipiku. Foto seorang sahabatku bersama ibunya sebelum beliau pergi dan tak kembali. Muncul banyak pertanyaan dan ketakutan ketika mataku memfokuskan pandangannya ke arah dua manusia yang sedang berpelukan dalam foto itu. Aku membayangkan jika dalam foto itu, aku dan ibuku.

Apakah aku akan kuat dan tegar?
Apakah aku bisa melanjutkan hidup tanpa beliau?
Siapa yang akan mengurus Ayah dan Adikku?
Siapa yang akan memasak makanan untuk kami?
Siapa yang akan menggedor-gedor pintu kamar ketika bangunku kesiangan?
Siapa yang akan menungguku sepulang bermain hingga larut malam?
Siapa yang akan bingung mencarikan paracetamol jika aku demam?
Siapa yang akan mengobati lukaku ketika aku jatuh dari motor?
Siapa yang akan mencuci dan menyetrika bajuku?
Siapa yang akan memelukku dan mengusap airmataku ketika hatikuku dilukai oleh laki-laki?
Siapa yang akan menggerutu jika aku melakukan kesalahan?
Dan masih banyak lainnya, aku belum siap kehilanganmu Bu.

Terlalu banyak tuntutan yang aku pinta, sedangkan aku tak pernah sedikitpun membuatnya bahagia. Hingga sampai detik ini, aku belum dapat menjadi kebangaannya. Mungkin esok, kelak, atau tidak sama sekali. Kasih sayangnya sangat besar kepadaku, tak ada uang atau emas yang mampu menghargai. Jika menabung mulai sekarang, tak akan ada satupun ‘celengan’ berbentuk ayam ataupun Bank yang mampu menampung untuk membalas kasih sayangnya. Segala yang dikorbankan selama ini, sedikitpun tak pernah beliau minta, semua dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Tanpa mengharap suatu imbalan.

Hanya ada kado sederhana malam ini, dan kecupan  yang mungkin tak dapat meneduhkan bola matanya. Sebelum ku daratkan bibirku ke atas keningnya, kupandangi wajahnya terlebih dahulu. Semakin banyak keriputan di paras cantiknya, dan uban di rambutnya sudah tak dapat dihitung dengan hitungan jari. Ia semakin menuah, semakin rentah.

Maafkan aku yang sering membuatmu gelisah, kecewa, bahkan menitihkan air mata.

Kau adalah “surga berjalan” bagi kami, anak-anakmu.

Selamat hari ibu, untukmu wanita-wanita yang membawah surga dibawah telapak kaki.

Senin, 17 Desember 2012

Angin.

Kau gugurkan aku dari persinggahanku
Kau jatuhkanku ke tanah
Terinjak dan tersengat surya
Lalu kau tiup lagi ke udara
Terbang tuk sementara
Naik-turun tak beraturan
Sesekali tubuhku terbentur bebatuan
Hingga, hembusanmu berakhir pada lautan
Yang menenggelamkan ku

Aku adalah daun kering
Dan kamu adalah angin

Minggu, 09 Desember 2012

Jaket merah.


Langit nampak gelap, gemuruh petir bersahutan. Hujan membasahi tempatku berpijak. Ku urungkan niatku untuk pulang, aku tak rela tubuhku dijamah oleh tetesan hujan. Dilantai dua tempatku menimba ilmu, kelas paling dekat dengan tangga. Tak ada kegiatan yang dapat ku lakukan selain mengotak atik handphone kesayanganku, jarang sekali dia lepas dari genggamanku. Aku bosan, ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ku dapati kesatria turun dari anak tangga, parasnya malaikatwi, rambutnya terhempas angin ke kanan ke kiri naik turun. Kharismanya membuat jantungku berdegup kencang, aku diam tak mampu berkata-kata. Tak perduli suara petir menyambar, aku tetap terpaku olehnya.

Siapakah engkau wahai pria berjaket merah?

Kamu


Malam itu, ditemani segelas kopi panas.

Kepulan asap rokok masih menghiasi pandanganku.

Kenikmatan kedua benda itu tak mampu menyingkirkan rasa rinduku.

Bayangmu masih kuat merasuki tiap-tiap pikiranku.

Sudah lima tahun kita berpisah, sudah puluhan kali aku mencoba hal-hal konyol untuk melupakanmu.

Hingga aku kehilangan cara, kau terlalu hebat mengendalikan raga ini.

Setia, untukmu yang mendua.


Bodohnya aku yang tetap setia, meskipun kau mendua. Pernah suatu hari engkau menyuruhku untuk mencari yang lebih baik, tapi maafkan aku. Aku tak dapat mewujudkan usulmu. Aku mecintaimu, meskipun kau selalu melukaiku. Sekuat hati, aku berusaha menjadi yang terbaik bagimu, meskipun lagi-lagi kau lumpuhkan aku dengan cintamu.

Setampan dan sesempurna apapun sosok yang berusaha mendekatiku, aku tak tergoda sama sekali. Aku setia, untukmu yang mendua. Hingga akhirnya aku yang kalah dan terluka. Engkau memilihnya, menghempaskan aku yang sedang terbang dinirwana. Padahal aku masih ingin berlama-lama menari bersama janji manismu.

(lagi-lagi) kamulah inspirasiku.

Sabtu, 08 Desember 2012

Selamat ulang tahun kekasihku.

Mimpi indahku dibuyarkan oleh denting alarm yang menjerit-jerit, semakin ia mendekati telinga, semakin ku dibuat kesal olehnya. Sial! Rupanya sudah pukul 10.00, seharusnya pagi ini aku berencana ke toko bunga, toko sepatu dan toko kue.

Setiba ditoko kue,
“mbak, kalau mau pesen rainbow cake untuk diambil nanti malem masih bisa kan mbak?”
“emm... sebentar ya mas”
“bisa kan mbak? Tolong saya mbak, saya butuh kue itu. Ntar malem jam 24.00 pacar saya berulang tahun yang ke 20”
“masih bisa kok mas, mau pesen berapa? Dikirim ke alamat mana?”
“satu saja mbak yang medium, nanti malem jam delapan aku ambil. Ohya, jangan lupa kasih tulisan HAPPY BIRTHDAY MY BELOVED, WITH LOVE DAMAR ya mbak”

Bunga mawar merah 20 tangkai sudah di tangan dan rainbow cake sudah dipesan. Masih kurang sepatu yang belum kudapat. Terakhir kali dia pernah bercerita jika ingin mempunyai sepatu boots berwarna coklat. Terik matahari semakin terasa sengit, meniup-niup kulit sawo matangku dengan panasnya yang membara. Berpindah dari mall ke mall, dan alhasil aku mendapatkan benda itu. Sepatu boots dengan warna coklat ukuran 37. Dibungkus dengan apik dan menarik, semoga dia menyukainya.

Akibat berkelana demi sepasang sepatu boots, pukul 21.15 aku baru tiba ditoko kue. Pintunya tertutup satu sisi, semua etalase berjajar rapi. Ku percepat langkah kakiku, untunglah masih ada satu karyawan di dalamnya. Dan kue berhasil ku bawa pulang.

Rambut, kemeja, hingga sepatu, semua sudah ku kenakan dengan rapi. Di depan cermin ku putar tubuhku ke kanan dan ke kiri. “Aku terlihat lebih tampan malam ini hehehe” pujiku dalam hati. Tak lupa, kusemprotkan parfum hampir kesekujur tubuh. Wangiku masih sama seperti dulu, tak pernah ku berpindah aroma. Sesuai dengan requestnya dulu.

Mobil telah siap ku tunggangi, semua barang-barang sudah siap didalamnya. Kutancap gas menuju rumahnya.

Tepat pukul 24.00, TEMPAT PEMAKAMAN UMUM PEGANGSAAN-MALANG.
Dengan senyum sumringah dan berjuta rindu, ku dekatkan langkahku menuju tempat peristirahatan terakhirmu. Gundukan tanah nomor lima dari depan, lurus dengan gerbang pintu masuk.

“selamat ulang tahun sayang, semoga kamu baik-baik saja disana.” Ku sandarkan 20 tangkai bunga mawar merah diatas batu nisannya, kado dan kue ku letakkan diatas tanah yang menyelimuti tubuhnya dari dingin malam. Ku biarkan lilin yang terdapat diatas kue tetap menyala, hingga angin yang mewakili nafasnya.

“aku kangen kamu” bisikku lirih. Lalu ku panjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa, yang terbaik untuknya.

Semoga kamu dapat melihat ini semua dari sana, jangan bersedih Tiara. Aku selalu mencintaimu, meski ragamu tak pernah memelukku ketika aku rindu.

“Maafkan aku harus meninggalkanmu lagi.”

Rabu, 05 Desember 2012

Prettt!


Kau bilang kau mencintaiku
Tapi mengapa kau meninggalkan ku
Hanya demi sebuah masalalu
Masalalu yang belum tentu membawamu ke masadepan

Ahh semua rayuanmu palsu!
Angin dan sampah belaka
Semua omonganmu tentang ini, itu
Hanyalah PRETTT belaka

Aku benci memujamu lagi
Tersenyum dalam bualanmu

Mungkin dengan melupakanmu adalah cara terbaik membunuhmu

Rindu


Rintik hujan masih bersahutan, bersenandung diatap rumahku. Kamar yang menghangatkan tubuhku, kini tak kurasa lagi. Angin menerobos disela-sela pintu dan jendela. Dingin seketika.
Tiba-tiba terdapat gambaran wajahmu ditiap-tiap sudut, aroma parfum yang biasa kau kenakan berlari-lari didepan lubang hidung. Aku masih hafal dengan bau itu. Sesekali ku mengedipkan mata dan menghela nafas panjang, berharap bayang-bayangmu hilang dari pandanganku. Satu, dua, tiga kali aku coba, tapi gambaran itu masih saja menari disudut-sudut kamar. Sepertinya malam ini (lagi-lagi) aku merindukanmu.

Senin, 03 Desember 2012

Bodoh


Tangannya menopang dagu
Tak ada titik fokus pada pandangannya
Kedua bola matanya berkaca-kaca
Kesedihan menghiasi paras tampannya

Secangkir kopi panas seketika berubah menjadi dingin
Asbak dan rokok yang masih menyala di biarkannya mati begitu saja

Dia berduka
Dia kehilangan
Kekasihnya pergi, untuk kekasih yang lain
Kesetiaan membodohinya
Menunggu dan menunggu
Berharap kekasihnya kembali

Bodoh, waktumu terbuang sia-sia
Hanya untuk menanti yang percuma
Mau sampai kapan kau berdiam disini?
Sampai kiamat?

Sabtu, 01 Desember 2012

Pagi itu


Ku buka pintu kamar, ku rebahkan tubuhku diatas kasur, sedikit lelah karena kewajiban. Ku nyalakan laptop di atas meja disudut kamar, ku putar deretan-deretan lagu sendu, yang kiranya dapat mengusap penatku. Ku raih handphone yang berada sejajar dengan kepala, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Seperti biasa, percakapanmu menemaniku dikala sepi. Kau bercerita tentang hubunganmu yang baru-baru ini berakhir, dua setengah tahun yang tlah usai. Sayangnya aku tak seberapa paham tentang siapa yang bersalah diantara kalian. Yang pasti semua telah tamat.

Memang akhir-akhir ini aku juga merasakan kegelisahan, tak enak makan, dan tidur. Belum genap seminggu dia meninggalkanku, sesorang yang sangat kucintai memilih tuk berjalan mundur dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Kita sama-sama butuh badut, sekiranya bergantian menghibur satu sama lain.

“keluar yuk?”

“kemana? Jam berapa ini?”

“cari tempat yang enak buat ngobrol, iya aku tau ini sudah pagi tapi aku butuh teman cerita, setidaknya sediakan telingamu untukku pagi ini.”

“yauda culik aku, aku tunggu ditempat biasa.”

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 wib, semua orang masih bergelut dengan mimpi mungkin sebagian ada juga yang berkeluh kesah dengan Tuhannya. Tak lama setelah aku berdiri menunggu dibawah pohon, sorot lampu motormu nampak dari kejauhan. Tak banyak basa-basi kitapun segera meninggalkan wilayah gubukku.

Jalanan yang masih basah akibat hujan yang mengguyur beberapa menit tadi, menemani perjalanan singkat kita menuju rumah makan cepat saji. Meja paling pojok, tempat paling nyaman untuk mengutarakan segala unek-unek yang mengganjal dihati. Selain jaraknya jauh dari pengunjung lainnya, terdapat juga colokan listrik untuk mengecas robot kotakku.

“ohya bagaimana dengan kekasihmu?.” Sebuah pertanyaan ku lontarkan tuk memulai sesi curhat.

Mulai dari awal hingga akhir ia ceritakan kronologisnya, sedikit miris tuk didengar. Dua tahun setengah hancur begitu saja, mungkin sepertinya tak dapat dipersatukan kembali. Sedikit kesimpulan tentang alasan mereka berakhir, karena waktu dan pengertian. Kesibukan yang membuat kekasihnya merasa terbagi, begitulah seorang pekerja jika berpacaran dengan gadis SMA. Kurang pengertian atau apalah aku sendiri tak sebegitu paham.

Mukanya kusut tak seperti kemarin-kemarin, mungkin beban yang ditumpu terlalu berat atau beberapa malam tak dapat tidur karena memikirkan sang kekasih. Beruntungnya dia mendapatkanmu, kamu yang terlihat hampir sempurna dalam penglihatanku. Andaikan kau berlabuh dihatiku mungkin tak akan ada kesedihan seperti ini, ku cintai dan kujaga kau dengan caraku yang pastinya tak dimiliki oleh orang-orang lain. Ya, dulu memang aku sempat menginginkanmu. Berharap kamu dan aku menjadi kita, bukan hanya teman disaat kegalauan melanda. Tapi itu dulu, entah sekarang?

Mulai dari gelap hingga sang fajar mulai mengintip keberadaan kita, dari puluhan pengunjung hingga sisa beberapa orang saja, dan dari percakapan hingga berkunjung ke “mbah google”. Aku mulai mengantuk dan sepertinya kamu juga, pukul 09.30 aku harus memulai pekerjaanku, dan kamu mengawalinya pukul 07.00. Tapi kedua-duanya tak ada yang mencicipi bunga tidur, karena jarak waktu yang sangat singkat.

05.15 kita sepakat meninggalkan rumah makan, kau antar aku menuju tempatku mengais rupiah.

Jumat, 30 November 2012

Mengertilah


Berkali-kali kuambil handphone yang ku taruh dalam tas, berharap ada pesan singkat darimu. Berjam-jam ku tunggu kabar darimu, berkhayal handphone ku berdering karena ulahmu. Tergopoh-gopoh tiap kali robot kecil itu berbunyi, aku pikir kamu dan ternyata bukan. Terbaliklah senyumku seketika L


“Kamu lagi dimana?”

“Sama siapa?”

“Sedang apa?”

“Sudah makan?”

Aku khawatir, mengertilah...


Berharap angin dapat menjawab semua pertanyaanku, segala gunda gulana akan terpecah. Aku cemas memikirkanmu, bahkan kecemasan itu berlomba dengan gerak jarum jam. Tiap menit, tiap detik, tak ada hentinya aku memikirkanmu. Harus berapa kali aku menghubungi dan menanyakan terlebih daluhu, hingga kamu benar-benar bosan tuk membaca ocehanku.


Aku malu jika terus menerus menanyakanmu, aku siapamu? Ibumu? Pacarmu? Yang pasti tak ada yang benar.


Akulah serpihan kisah masa lalumu
Yang sekedar ingin tahu keadaanmu
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
Mengganggu setiap ketentraman hidupmu
Hanya tak mudah bagiku lupakanmu
Dan pergi menjauh
Beri sedikit waktu
Agar ku terbiasa
Bernafas tanpamu


Dimanapun kamu berada do’a ku selalu menyertaimu, percayalah di setiap tengadahan tanganku masih ku selipkan namamu, di setiap sujudku.

Kamis, 29 November 2012

Beberapa jam sebelum sholat Jum'at


Hari ini kuliah pulang lebih awal, dikarenakan hari Jum’at. Setiap kaum Adam wajib mengikuti, maka dari itu kami dipulangkan lebih awal. Tugas demi tugas memberatkan kepala, yang satu belum kelar dan yang lainnya telah mengantri untuk dicumbui. Tiga hari lagi giliran kelompokku untuk maju mempresentasikan hasil pekerjaan. Tapi sayang tak ada kesiapan sama sekali, yang satu tak ada kabar dan yang satu lagi bersiap-siap untuk mudik. Memang temanku yang satu itu bukan warga asli Surabaya, dia menyewa sebuah kamar kecil yang kebetulan berada di samping kampus.

Perpustakaan, ditemani dua orang laki-laki yang kebetulan teman sekelasku juga. Sedikit merepotkan mereka, karena kupaksa untuk membantuku mengerjakan tugas. Jika tidak seperti ini lalu siapa lagi? Satu bangku panjang, 3 manusia, 3 benda robot kotak, dan beberapa tumpukan buku-buku. Alhamdulillah sedikit terbantu...

Ku tinggalkan perpustakaan dan bergegas untuk pulang, ku nyalakan mesin motorku dan tak lupa helm tlah terpasang diatas kepala. Ku gerakkan setir motor menuju arah gerbang, setiba disana ternyata gerbang ditutup. Alhasil aku tak dapat pulang, bukan hanya aku saja yang terjebak masih banyak motor-motor dan mobil-mobil lainnya. Kuparkirkan seenaknya, berjalan menuju ruang Referensi Fakultas Ekonomi.

Setiba disana ku buka tas kesayanganku, ku keluarkan mesin kotak berbentuk seperti buku. Laptop, biasa orang-orang menyebutnya. Kucicil satu persatu tugas makro ekonomi, hingga aku lupa tak menyapa senior-senior yang berada disampingku.

Mataku terlalu lelah menatap layar, kuedarkan kedua bola mataku ke sekeliling. Kulihat nampak seorang cowok tertidur pulas disudut ruang, berkemeja kotak-kotak dengan paras oriental. Kuamati dengan kenyang setiap lekuk tubuhnya, hidungnya mancung, matanya sipit, berkulit putih. Ahh manis sekali engkau siang ini, bibir merahmu terkatup dengan rapi, tak ada dengkuran yang terdengar.

Ingin rasanya mengenalmu, mengetahui siapa namamu, mungkin bisa lebih jauh dari itu. Apa harus ku tinggalkan nomor handphoneku disaku kemejamu? Agar jika kau terbangun kau dapat menghubungiku dan kita berkenalan.

Suara adzan yang sangat merdu membuyarkan pandanganku, dia terbangun dari mimpinya dan berlari kecil menuju masjid yang berada di halaman kampus.

Selasa, 27 November 2012

Suamimu, kekasihku...


Sebut saja Dita, dia adalah seorang teman baikku. Berawal darinya aku mengenal sosok itu. Sosok laki-laki dewasa yang beristri dan mempunyai seorang anak, sedikit kaku dan pekerja keras.

Sudah beberapa minggu Dita menjalin hubungan terlarang dengannya, Ryan nama laki-laki itu. Entah apa yang ada dipikiran Dita saat itu, cinta kah? Atau hanya tergiur harta semata? Tak munafik, Ryan termasuk dalam kategori laki-laki kaya. Menjadi orang penting disalah satu perusahaan rokok ternama, mobil, rumah mewah, semua ia punya. Sebagai sahabat yang baik, saat itu aku yang menjadi ‘peri’ bagi Dita. Aku lah yang selalu menasehatinya, agar tak terus-terusan berhubungan dengan Ryan. Dan alhasil sedikit demi sedikit mereka saling menjauh, bahkan lost contact.

Hanya dalam hitungan jari, tepatnya 4 kali. Tuhan mempertemukanku dengannya. Yang ku ingat terakhir kita bertatap muka di salah satu mall ternama di kotaku. Lama setelah pertemuan itu kita tak saling tatap, hingga pada akhirnya ketika aku bekerja di sebuah supermarket, kita dipertemukan lagi oleh waktu dan lagi-lagi Tuhan yang merencanakan pertemuan itu. Tapi sayang, laki-laki yang berada didepan mataku tak sendiri, melainkan bersama istrinya. Ku ambil saja kesempatan dalam kesempitan, ku tawarkan produk yang sedang ku jual, dan mereka segan untuk membelinya. Tak pernah terfikir sebelumnya, tiba-tiba dia meninggalkan istrinya yang sedang mendorong troli. Bersembunyi diantara rak rak yang tertata rapi, hanya untuk meminta nomor ponsel dan pin BlackBerryku. “OMG, jangan biarkan ini awal dari sebuah masalah besar.”

Dan, ketakutanku sedikit demi sedikit mempunyai titik terang. Hanya dari teman ngobrol hingga dekat seperti sekarang, bahkan ada hubungan spesial diantara kita. Apalah guna dulu aku menjadi ‘peri’ bagi Dita, dan sekarang aku menelan pil pahit.

“Good morning my LIGI”

Little Girl panggilan sayang untukku, hampir setiap pagi sapaan itu menghiasi ponselku. Untuk saat ini memang aku nyaman dengannya, bahkan mencintainya, meski dia bukan termasuk tipe lelaki idamanku. Hari demi hari, minggu ke minggu bahkan berganti bulan, kita masih mengumpat dibalik ibu seorang anak laki-laki. Bercengkrama dibalik kejahatan. Aku paham jika ini berdosa, tapi ini cinta. Tak jauh beda dengan dosa.

Aku menikmati hubungan ini, meskipun terkadang tak dapat bebas jika berada diluar dengannya. Wajar saja, karena dia suami orang terlebih ayah dari seorang anak yang tak berdosa. Pernah beberapa kali aku berfikiran tuk menjauh dari semua ini, bahkan melupakannya. Tapi aku tak pernah berhasil, lagi-lagi dia mengejarku dan memaksaku tuk tetap tinggal.



Disini aku tak merusak, tapi mencintai. Bukan cara ku mencintaimu yang keliru, tapi posisiku yang salah.

Minggu, 18 November 2012

senjaku


Suara petir menggelegar, langit tiba-tiba menghitam.
Gemercik hujan bersenandung disusul oleh tarian badai.
Nampak jepretan putih dibalik jendela.

Hujan dimalam ini mengingatkanku akan sosokmu, sepotong senja yang memerah.
Sudah berapa dekade kita tak saling tatap? menikmati secangkir kopi ditempat favorit kita dulu.
Bercengkrama memadu kisah, hingga aku lupa jika kekasihmu menanti dirumah.

Ada hal yang lebih hangat dari secangkir kopi yang biasa kita nikmati, kamu tau apakah itu?
Ya, ketika siku kita saling bersentuhan, ketika nafasmu dapat kurasakan dibalik rambutku yang tergurai.
Aroma tubuhmu bercampur keringat menusuk-nusuk dilubang hidung, senyum nakalmu ketika kau mengusiliku.  
Aaaa ... aku tak akan lupa akan semua hal itu.

Maafkan aku jika malam ini aku tak dapat menahan rindu.
Inginku bertemu, menghabiskan malam hingga pagi menjelang bersamamu.
Seperti dulu... tertawa lepas, hanya bintang dan bulan yang dapat mengabadikan.


"apa kabar kamu senja kecilku?"
"masihkah engkau dalam pelukannya?"

Kamis, 15 November 2012

kesatria berkacamata


Entah ada apa dengan pria berkacamata, selalu membuat nafasku berjedah lebih lama. Mataku berhenti berkedip beberapa menit, ingus dan air ludah beradu kecepatan meluncur. Ahh sepertinya terlalu menjijikan...
Kamu, sosok yang baru ku kenal dari teman baikku. Orang baru yang mampu mengalihkan segalanya  dengan kesempurnaan yang kau miliki. Kamu lucu, mungkin lebih lucu dari badut Ancol. Berkacamata, kharismatik. Tapi sayang tak jago goyang itik!
Jika gatotkaca berkacamata, mungkin kamu adalah gatotkaca jaman sekarang. Dan jika Raditya Dika menjadi pelayan sebuah cafe, mungkin kamu juga orangnya. Sayangnya kamu tak pandai terbang dan membual seperti mereka. Kamu dingin, seperti es sinom menu andalan ditempatmu bekerja. Berbicara seadanya saja, tak membuka mulut jika tak diminta. Mungkin hanya sebatas menyapa dan tersenyum. Ahhh... haruskah aku terlebih dahulu yang meminta pin mu? Agar dapat menyimpan tiap tiap DP yang kau gonta-ganti, setidaknya kita dapat saling komunikasih. Menjadi lebih dekat mungkin...
Aku menyimpan sesuatu sejak kau begadang lucu dirumahku, sejak kau datang dan membuka sepatu, hingga kau pakai sepatumu lagi dan berpamitan pulang. Apa harus aku datang ketempatmu bekerja jika aku rindu? Memesan dan kamu yang melayani. Sayangnya aku tak suka itu, sesekali aku dan kamu yang menjadi tamu. Dinner berdua satu meja misalnya :3
Ditulis dengan detak jantung yang membahana, menggelegar seangkasa,
Selamat pagi kesatria berkacamata.

yang kutahu, aku mencintaimu.


Jangan tanyakan padaku,

“mengapa aku mencintaimu?”
“mengapa aku memilihmu?” dan
“mengapa aku bertahan dalam posisi ini?”

Aku sendiri tak mengerti dan tak tahu apa yang harus kujabarkan tentang itu semua. Yang aku tahu AKU MENCINTAIMU, MENERIMA SEGALA KEKURANGANMU. Terlebih menerima kenyataan jika ada nama lain yang telah mengisi hatimu. Bodoh memang, mencintai seseorang yang telah berkekasih. Berbagi cinta dengan orang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Bermula dengan kebohongan, dan aku menerimanya dengan ikhlas.

Tidak semua wanita rela berbagi, menunggu sang kekasih bercumbu dengan kekasihnya, menahan rindu jika ia sedang bersamanya, bersembunyi diantara khalayak. Bahkan sedikit tak diakui. Banyak yang mencibirku tentang keputusan yang kupilih, mencintaimu dan harus berbagi dengannya. Tapi inilah cinta, tentang perasaan. Aku tak peduli dengan kicauan mereka, tak peduli dengan nasehat mereka. Karna yang aku tahu AKU MENCINTAIMU!!!

Abstrak memang, bertahan untuk sesuatu yang tak pasti, tak ada titik temu dan tujuan.

Sesekali terbesit dalam lamunan, ingin ku memaksamu tuk memilih. Tapi apalah daya, aku yang datang terlambat sebelum dia, aku onar dari ini semua. Aku yang berdosa dan kamu juga dalang dibalik ini semua. Aku tak ingin ini semua berakhir secepat membalikkan telapak tangan, karna aku masih ingin menjagamu, memelukmu dengan hatiku.

Suatu hari aku mencoba mencari sandaran lain, untuk menutupi perih ini. Dan besar kemungkinan jika ia mampu memberiku manis lebih dari yang engkau suguhkan, maka aku akan meninggalkan dosa dan kesakitan. Namun aku gagal, karena cinta tak dapat berpindah semudah itu.

Sekali lagi aku tegaskan, AKU MENCINTAIMU! Dan hanya kamu seorang yang menempati ruang dihati ini, tak ada nama lain. HANYA KAMU!


Teruntuk priaku yang masih dalam pelukkannya =)

Rabu, 14 November 2012

Apakah ini yang dinamakan engkau mencintaiku?


Apakah ini yang dinamakan engkau mencintaiku? Dengan menyakiti dan membiarkanku menangis dalam hati. Tak nampak memang air mataku, tapi coba kau rasakan dengan hati. Sengaja aku berlindung kepada hujan, agar tetesan airmata yang membasahi pipiku tak dapat kau lihat.
Entah kepuasan apa yang kau peroleh, kesenangan batinkah? Atau memang kau benar-benar dilema? Siapa sebenarnya yang engkau cintai? Aku ataukah dia? Cinta, sayang, perhatian, kasihan, ataukah hanya ambisi semata? Yang jelas semua itu berbeda.
Sampai kapan engkau berjalan dengan dua hati? Berbagi waktu dan berbagi cinta. Apa kau tak terepotkan dengan ini semua?

Senin, 12 November 2012

dipisahkan hanya karena kita berbeda

jika berjalan mundur ke beberapa bulan yang lalu
ketika aku dan kamu masih menjadi kita
disaat salibmu dan tasbihku masih menyatu
Tuhanmu dan Tuhanku

saling mendoakan satu sama lain
ku sebut namamu dalam sujudkku
kau bawa namaku dalam lipatan tanganmu
meski kita memanggilNya dengan nama yang berbeda

bukankah Tuhan menciptakan cinta agar yang berbeda-beda bisa menyatu?
lalu mengapa kita dilarang?
apa salahmu? apa salahku?
padahal kita saling mencintai dan menghormati

Tuhan, beritahu kami tentang arti larangan ini
jelaskan pada kami dan mereka mengapa kita tak dapat bersatu
kita bukan pasangan teroris yang harus dipandang sebelah mata
apa salahnya wanita berhijab berjalan dengan pria berkalung salib?

Kamis, 08 November 2012

calon kekasih sahabatku

Kau bercerita, aku mendengarkan.
Kau bahagia, aku yang terluka.
Dia yang ku puja, dia yang akan jadi milikmu.

Dia yang ku kenal lebih dulu, sebelum ku mengenalmu.
Dia yang ku cinta, sebelum kau menjadi temanku.
Dia mencintaimu, begitu pula denganmu.

Aku adalah tangis dibalik kebahagiaan kalian.
Engkau senang, begitu pula denganku.
Tapi itu semua hanya sandiwara semata, karna
Senyum kalian adalah tangisku.

Topeng yang kupakai tak selamanya dapat menutupi sedihku.
Aku tak sanggup jika harus berpura-pura.
Menahan senyuman dibalik airmata.

Minggu, 19 Agustus 2012

untuknya, kekasihmu...

Dari gelap aku bertemu terang, dalam dekat aku melihat dari kejauhan.
mengamati setiap gerak-gerik tubuhmu, mengendap-endap dibalik penglihatanmu.
aku mengagumimu sejak dari dulu.
berawal dari sebuah jejaring sosial aku menemukan senyum itu.
engkau hampir sempurna, bagiku...
tapi sayang, ada jemari yang menggenggam erat hatimu.
yaa, kau memang lelaki yang berkekasih.
aku mengenal dia, jauh lebih dekat darimu.

tiba pada suatu malam, kita diperkenalkan oleh Tuhan, lebih dekat.
entah apa maksut dan tujuan Tuhan malam itu.
dari hanya tahu menjadi kenal, dan jauh menjadi dekat.

aku mulai mengagumi sosok itu, sosok yang tak sendiri lagi.
mencintai diantara dua hati.
sangat mustahil bukan?
terlebih aku mengenal wanita itu.

kau memberiku gula diantara masam hidupku.
lebih manis dari sebuah cotton candy.