Sabtu, 01 Desember 2012

Pagi itu


Ku buka pintu kamar, ku rebahkan tubuhku diatas kasur, sedikit lelah karena kewajiban. Ku nyalakan laptop di atas meja disudut kamar, ku putar deretan-deretan lagu sendu, yang kiranya dapat mengusap penatku. Ku raih handphone yang berada sejajar dengan kepala, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Seperti biasa, percakapanmu menemaniku dikala sepi. Kau bercerita tentang hubunganmu yang baru-baru ini berakhir, dua setengah tahun yang tlah usai. Sayangnya aku tak seberapa paham tentang siapa yang bersalah diantara kalian. Yang pasti semua telah tamat.

Memang akhir-akhir ini aku juga merasakan kegelisahan, tak enak makan, dan tidur. Belum genap seminggu dia meninggalkanku, sesorang yang sangat kucintai memilih tuk berjalan mundur dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Kita sama-sama butuh badut, sekiranya bergantian menghibur satu sama lain.

“keluar yuk?”

“kemana? Jam berapa ini?”

“cari tempat yang enak buat ngobrol, iya aku tau ini sudah pagi tapi aku butuh teman cerita, setidaknya sediakan telingamu untukku pagi ini.”

“yauda culik aku, aku tunggu ditempat biasa.”

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 wib, semua orang masih bergelut dengan mimpi mungkin sebagian ada juga yang berkeluh kesah dengan Tuhannya. Tak lama setelah aku berdiri menunggu dibawah pohon, sorot lampu motormu nampak dari kejauhan. Tak banyak basa-basi kitapun segera meninggalkan wilayah gubukku.

Jalanan yang masih basah akibat hujan yang mengguyur beberapa menit tadi, menemani perjalanan singkat kita menuju rumah makan cepat saji. Meja paling pojok, tempat paling nyaman untuk mengutarakan segala unek-unek yang mengganjal dihati. Selain jaraknya jauh dari pengunjung lainnya, terdapat juga colokan listrik untuk mengecas robot kotakku.

“ohya bagaimana dengan kekasihmu?.” Sebuah pertanyaan ku lontarkan tuk memulai sesi curhat.

Mulai dari awal hingga akhir ia ceritakan kronologisnya, sedikit miris tuk didengar. Dua tahun setengah hancur begitu saja, mungkin sepertinya tak dapat dipersatukan kembali. Sedikit kesimpulan tentang alasan mereka berakhir, karena waktu dan pengertian. Kesibukan yang membuat kekasihnya merasa terbagi, begitulah seorang pekerja jika berpacaran dengan gadis SMA. Kurang pengertian atau apalah aku sendiri tak sebegitu paham.

Mukanya kusut tak seperti kemarin-kemarin, mungkin beban yang ditumpu terlalu berat atau beberapa malam tak dapat tidur karena memikirkan sang kekasih. Beruntungnya dia mendapatkanmu, kamu yang terlihat hampir sempurna dalam penglihatanku. Andaikan kau berlabuh dihatiku mungkin tak akan ada kesedihan seperti ini, ku cintai dan kujaga kau dengan caraku yang pastinya tak dimiliki oleh orang-orang lain. Ya, dulu memang aku sempat menginginkanmu. Berharap kamu dan aku menjadi kita, bukan hanya teman disaat kegalauan melanda. Tapi itu dulu, entah sekarang?

Mulai dari gelap hingga sang fajar mulai mengintip keberadaan kita, dari puluhan pengunjung hingga sisa beberapa orang saja, dan dari percakapan hingga berkunjung ke “mbah google”. Aku mulai mengantuk dan sepertinya kamu juga, pukul 09.30 aku harus memulai pekerjaanku, dan kamu mengawalinya pukul 07.00. Tapi kedua-duanya tak ada yang mencicipi bunga tidur, karena jarak waktu yang sangat singkat.

05.15 kita sepakat meninggalkan rumah makan, kau antar aku menuju tempatku mengais rupiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar