Ku buka pintu kamar, ku
rebahkan tubuhku diatas kasur, sedikit lelah karena kewajiban. Ku nyalakan
laptop di atas meja disudut kamar, ku putar deretan-deretan lagu sendu, yang
kiranya dapat mengusap penatku. Ku raih handphone yang berada sejajar dengan
kepala, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Seperti biasa, percakapanmu
menemaniku dikala sepi. Kau bercerita tentang hubunganmu yang baru-baru ini
berakhir, dua setengah tahun yang tlah usai. Sayangnya aku tak seberapa paham
tentang siapa yang bersalah diantara kalian. Yang pasti semua telah tamat.
Memang akhir-akhir ini
aku juga merasakan kegelisahan, tak enak makan, dan tidur. Belum genap seminggu
dia meninggalkanku, sesorang yang sangat kucintai memilih tuk berjalan mundur
dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Kita sama-sama butuh badut, sekiranya
bergantian menghibur satu sama lain.
“keluar yuk?”
“kemana? Jam berapa ini?”
“cari tempat yang enak
buat ngobrol, iya aku tau ini sudah pagi tapi aku butuh teman cerita,
setidaknya sediakan telingamu untukku pagi ini.”
“yauda culik aku, aku
tunggu ditempat biasa.”
Jarum jam menunjukkan
pukul 02.30 wib, semua orang masih bergelut dengan mimpi mungkin sebagian ada
juga yang berkeluh kesah dengan Tuhannya. Tak lama setelah aku berdiri menunggu
dibawah pohon, sorot lampu motormu nampak dari kejauhan. Tak banyak basa-basi
kitapun segera meninggalkan wilayah gubukku.
Jalanan yang masih basah
akibat hujan yang mengguyur beberapa menit tadi, menemani perjalanan singkat
kita menuju rumah makan cepat saji. Meja paling pojok, tempat paling nyaman
untuk mengutarakan segala unek-unek yang mengganjal dihati. Selain jaraknya jauh
dari pengunjung lainnya, terdapat juga colokan listrik untuk mengecas robot
kotakku.
“ohya bagaimana dengan
kekasihmu?.” Sebuah pertanyaan ku lontarkan tuk memulai sesi curhat.
Mulai dari awal hingga
akhir ia ceritakan kronologisnya, sedikit miris tuk didengar. Dua tahun
setengah hancur begitu saja, mungkin sepertinya tak dapat dipersatukan kembali.
Sedikit kesimpulan tentang alasan mereka berakhir, karena waktu dan pengertian.
Kesibukan yang membuat kekasihnya merasa terbagi, begitulah seorang pekerja
jika berpacaran dengan gadis SMA. Kurang pengertian atau apalah aku sendiri tak
sebegitu paham.
Mukanya kusut tak
seperti kemarin-kemarin, mungkin beban yang ditumpu terlalu berat atau beberapa
malam tak dapat tidur karena memikirkan sang kekasih. Beruntungnya dia
mendapatkanmu, kamu yang terlihat hampir sempurna dalam penglihatanku. Andaikan
kau berlabuh dihatiku mungkin tak akan ada kesedihan seperti ini, ku cintai dan
kujaga kau dengan caraku yang pastinya tak dimiliki oleh orang-orang lain. Ya,
dulu memang aku sempat menginginkanmu. Berharap kamu dan aku menjadi kita, bukan
hanya teman disaat kegalauan melanda. Tapi itu dulu, entah sekarang?
Mulai dari gelap hingga sang
fajar mulai mengintip keberadaan kita, dari puluhan pengunjung hingga sisa
beberapa orang saja, dan dari percakapan hingga berkunjung ke “mbah google”. Aku
mulai mengantuk dan sepertinya kamu juga, pukul 09.30 aku harus memulai
pekerjaanku, dan kamu mengawalinya pukul 07.00. Tapi kedua-duanya tak ada yang
mencicipi bunga tidur, karena jarak waktu yang sangat singkat.
05.15 kita sepakat
meninggalkan rumah makan, kau antar aku menuju tempatku mengais rupiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar