Selasa, 27 November 2012

Suamimu, kekasihku...


Sebut saja Dita, dia adalah seorang teman baikku. Berawal darinya aku mengenal sosok itu. Sosok laki-laki dewasa yang beristri dan mempunyai seorang anak, sedikit kaku dan pekerja keras.

Sudah beberapa minggu Dita menjalin hubungan terlarang dengannya, Ryan nama laki-laki itu. Entah apa yang ada dipikiran Dita saat itu, cinta kah? Atau hanya tergiur harta semata? Tak munafik, Ryan termasuk dalam kategori laki-laki kaya. Menjadi orang penting disalah satu perusahaan rokok ternama, mobil, rumah mewah, semua ia punya. Sebagai sahabat yang baik, saat itu aku yang menjadi ‘peri’ bagi Dita. Aku lah yang selalu menasehatinya, agar tak terus-terusan berhubungan dengan Ryan. Dan alhasil sedikit demi sedikit mereka saling menjauh, bahkan lost contact.

Hanya dalam hitungan jari, tepatnya 4 kali. Tuhan mempertemukanku dengannya. Yang ku ingat terakhir kita bertatap muka di salah satu mall ternama di kotaku. Lama setelah pertemuan itu kita tak saling tatap, hingga pada akhirnya ketika aku bekerja di sebuah supermarket, kita dipertemukan lagi oleh waktu dan lagi-lagi Tuhan yang merencanakan pertemuan itu. Tapi sayang, laki-laki yang berada didepan mataku tak sendiri, melainkan bersama istrinya. Ku ambil saja kesempatan dalam kesempitan, ku tawarkan produk yang sedang ku jual, dan mereka segan untuk membelinya. Tak pernah terfikir sebelumnya, tiba-tiba dia meninggalkan istrinya yang sedang mendorong troli. Bersembunyi diantara rak rak yang tertata rapi, hanya untuk meminta nomor ponsel dan pin BlackBerryku. “OMG, jangan biarkan ini awal dari sebuah masalah besar.”

Dan, ketakutanku sedikit demi sedikit mempunyai titik terang. Hanya dari teman ngobrol hingga dekat seperti sekarang, bahkan ada hubungan spesial diantara kita. Apalah guna dulu aku menjadi ‘peri’ bagi Dita, dan sekarang aku menelan pil pahit.

“Good morning my LIGI”

Little Girl panggilan sayang untukku, hampir setiap pagi sapaan itu menghiasi ponselku. Untuk saat ini memang aku nyaman dengannya, bahkan mencintainya, meski dia bukan termasuk tipe lelaki idamanku. Hari demi hari, minggu ke minggu bahkan berganti bulan, kita masih mengumpat dibalik ibu seorang anak laki-laki. Bercengkrama dibalik kejahatan. Aku paham jika ini berdosa, tapi ini cinta. Tak jauh beda dengan dosa.

Aku menikmati hubungan ini, meskipun terkadang tak dapat bebas jika berada diluar dengannya. Wajar saja, karena dia suami orang terlebih ayah dari seorang anak yang tak berdosa. Pernah beberapa kali aku berfikiran tuk menjauh dari semua ini, bahkan melupakannya. Tapi aku tak pernah berhasil, lagi-lagi dia mengejarku dan memaksaku tuk tetap tinggal.



Disini aku tak merusak, tapi mencintai. Bukan cara ku mencintaimu yang keliru, tapi posisiku yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar