Sebut saja Dita, dia
adalah seorang teman baikku. Berawal darinya aku mengenal sosok itu. Sosok
laki-laki dewasa yang beristri dan mempunyai seorang anak, sedikit kaku dan
pekerja keras.
Sudah beberapa minggu
Dita menjalin hubungan terlarang dengannya, Ryan nama laki-laki itu. Entah apa
yang ada dipikiran Dita saat itu, cinta kah? Atau hanya tergiur harta semata? Tak
munafik, Ryan termasuk dalam kategori laki-laki kaya. Menjadi orang penting
disalah satu perusahaan rokok ternama, mobil, rumah mewah, semua ia punya. Sebagai
sahabat yang baik, saat itu aku yang menjadi ‘peri’ bagi Dita. Aku lah yang
selalu menasehatinya, agar tak terus-terusan berhubungan dengan Ryan. Dan alhasil
sedikit demi sedikit mereka saling menjauh, bahkan lost contact.
Hanya dalam hitungan
jari, tepatnya 4 kali. Tuhan mempertemukanku dengannya. Yang ku ingat terakhir
kita bertatap muka di salah satu mall ternama di kotaku. Lama setelah pertemuan
itu kita tak saling tatap, hingga pada akhirnya ketika aku bekerja di sebuah
supermarket, kita dipertemukan lagi oleh waktu dan lagi-lagi Tuhan yang
merencanakan pertemuan itu. Tapi sayang, laki-laki yang berada didepan mataku
tak sendiri, melainkan bersama istrinya. Ku ambil saja kesempatan dalam kesempitan,
ku tawarkan produk yang sedang ku jual, dan mereka segan untuk membelinya. Tak pernah
terfikir sebelumnya, tiba-tiba dia meninggalkan istrinya yang sedang mendorong
troli. Bersembunyi diantara rak rak yang tertata rapi, hanya untuk meminta
nomor ponsel dan pin BlackBerryku. “OMG, jangan biarkan ini awal dari sebuah
masalah besar.”
Dan, ketakutanku sedikit
demi sedikit mempunyai titik terang. Hanya dari teman ngobrol hingga dekat
seperti sekarang, bahkan ada hubungan spesial diantara kita. Apalah guna dulu
aku menjadi ‘peri’ bagi Dita, dan sekarang aku menelan pil pahit.
“Good morning my LIGI”
Little Girl panggilan sayang untukku, hampir setiap pagi sapaan
itu menghiasi ponselku. Untuk saat ini memang aku nyaman dengannya, bahkan
mencintainya, meski dia bukan termasuk tipe lelaki idamanku. Hari demi hari,
minggu ke minggu bahkan berganti bulan, kita masih mengumpat dibalik ibu
seorang anak laki-laki. Bercengkrama dibalik kejahatan. Aku paham jika ini
berdosa, tapi ini cinta. Tak jauh beda dengan dosa.
Aku menikmati hubungan
ini, meskipun terkadang tak dapat bebas jika berada diluar dengannya. Wajar saja,
karena dia suami orang terlebih ayah dari seorang anak yang tak berdosa. Pernah
beberapa kali aku berfikiran tuk menjauh dari semua ini, bahkan melupakannya. Tapi
aku tak pernah berhasil, lagi-lagi dia mengejarku dan memaksaku tuk tetap
tinggal.
Disini aku tak
merusak, tapi mencintai. Bukan cara ku mencintaimu yang keliru, tapi posisiku
yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar