Bodohnya aku yang tetap
setia, meskipun kau mendua. Pernah suatu hari engkau menyuruhku untuk mencari
yang lebih baik, tapi maafkan aku. Aku tak dapat mewujudkan usulmu. Aku
mecintaimu, meskipun kau selalu melukaiku. Sekuat hati, aku berusaha menjadi
yang terbaik bagimu, meskipun lagi-lagi kau lumpuhkan aku dengan cintamu.
Setampan dan sesempurna
apapun sosok yang berusaha mendekatiku, aku tak tergoda sama sekali. Aku setia,
untukmu yang mendua. Hingga akhirnya aku yang kalah dan terluka. Engkau
memilihnya, menghempaskan aku yang sedang terbang dinirwana. Padahal aku masih
ingin berlama-lama menari bersama janji manismu.
(lagi-lagi) kamulah
inspirasiku.
Lagi-lagi aku terhenti di sajak ini. :)
BalasHapusMntap! Aku nanti karyamu yang baru, mba'..