Minggu, 17 Februari 2013

Dalam Diam


Masih belum mengerti mengapa azaz pertemanan itu ada, mengapa diam itu emas. Seperti caramu mencintaiku, diam-diam yang belum tentu menjadi emas. Belum siap, katamu. Karena kamu seorang pengangguran? Menganggur demi sebuah cita-cita yang memaksamu untuk tidak bekerja. Alasan materi kau bilang, takut tak dapat membahagiakan aku. Kamu pikir aku gila harta? Kamu salah, kebahagiaan tak sepenuhnya berasal dari uang. Uang bukanlah jaminan segalanya. Sampai kapan kau akan mengubur hasratmu dalam-dalam? Hingga sejajar dengan makam?

Entah alasan apa sebenarnya, yang membuatmu bersikukuh mencintai dalam diam. Bukan satu jam, sehari, seminggu, atau sebulan kita saling kenal. Tapi ini sudah bertahun-tahun. Dan aku nyaman jika berada diantara sayapmu.

Tak pernah sekalipun kau berbicara serius tentang hati, hanya ada rangkaian kata-kata indah yang pernah kau kirim lewat ponsel canggih beberapa waktu yang lampau. Sejak kapan kau pandai memainkan kata? hingga menjadi bait-bait yang membuatku susah bernafas. Huruf per huruf, kata perkata, semuanya mirip dengan tingkah pola mu. Tak jelas ini karya siapa, yang penting maknanya memberiku semangat untuk menunggu...

Cintaku bukan diatas lisan, maka tak perlu ku ucapkan
Cintaku bukan dimataku, maka tak harus ku menatapmu
Cintaku bukan pula dijemariku, maka tak perlu ku sentuh dirimu

Wahai wanita yang ku cintai, ku dengar gemercik dihatimu bertanya:
“dengan apa engkau mencintaiku?”

Subhanallah...
Aku mencintaimu dengan kebenaran
Aku mencintaimu dengan kemuliaan
Aku mencintaimu dengan menjaga kehormatanmu

Maha suci Allah...
Aku tak peduli mereka berkata apa atas kebisuan cintaku
Tapi aku tetap yakin inilah yang terbaik

Percayalah...
Dibalik cinta diamku terdapat bukti kesungguhanku
Dibalik cinta diamku aku selalu menjanjikan kesetiaan
Walau tak pernah aku ucapkan

Aku ingin kita mengukir kisah cinta kita dan bermadu kasih dibawah janji suci yang di ridhoi Allah

Mengukir kisah yang manis agar kelak bisa menjadi dongeng sebelum tidur bagi anak-anak kita

insyaAllah...
Andai kita tak dipertemukan di dunia
Maka aku akan menunggumu di surga-Nya
insyaAllah...

Tapi jika suatu saat, kau datang dengan segala perbekalan. Apa aku siap? Terlebih untuk kita, yang awalnya sebagai sahabat. Teman disegala musim. Kini sepertinya hatiku ambigu, mentalku berkarat. Berjuta tanda tanya menggunung dikepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar