Minggu, 10 Februari 2013

Tua-tua Keladi


Tubuhnya tua, rentah dimakan usia. Tapi tidak dengan gelora jiwa mudanya. Untuk jatuh cinta berkali-kali ia masih kuat. Meskipun terdapat banyak kerut dipipinya. Sudah tidak 50tahun lagi, anak dan beberapa cucu sudah dia peroleh. Dan seorang suami masih setia mendampingi. Meski jiwanya lebih rentah dari sang istri.

Dia jatuh cinta lagi, kepada tukang becak yang setiap pagi mengantarnya pergi ke pasar. Bagaikan dimabuk asmara, hidupnya semakin berwarna. Senyum sumringah mewarnai keriputnya, ketika pangeran beroda tiga menjemputnya. Tak perduli suami dan anak cucu dirumah, yang penting becak milik mereka. Sepanjang aspal menghitam cinta mereka merekah.


Tua-tua keladi, sudah tua jatuh cinta lagi.
Terkadang dunia terasa semakin egois, ketika jiwa-jiwa rela membunuh harga diri demi segumpal cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar