Tubuhnya tua, rentah dimakan usia. Tapi tidak dengan gelora jiwa
mudanya. Untuk jatuh cinta berkali-kali ia masih kuat. Meskipun terdapat banyak
kerut dipipinya. Sudah tidak 50tahun lagi, anak dan beberapa cucu sudah dia
peroleh. Dan seorang suami masih setia mendampingi. Meski jiwanya lebih rentah
dari sang istri.
Dia jatuh cinta lagi, kepada tukang becak yang setiap pagi
mengantarnya pergi ke pasar. Bagaikan dimabuk asmara, hidupnya semakin
berwarna. Senyum sumringah mewarnai keriputnya, ketika pangeran beroda tiga
menjemputnya. Tak perduli suami dan anak cucu dirumah, yang penting becak milik
mereka. Sepanjang aspal menghitam cinta mereka merekah.
Tua-tua keladi, sudah tua jatuh cinta lagi.
Terkadang dunia terasa semakin egois, ketika jiwa-jiwa rela membunuh
harga diri demi segumpal cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar