Rintikan air hujan
membasahi kaca mobil, wiper tak kunjung henti menari ke kanan dan ke
kiri. Pepohonan di tepi jalan semakin terlihat hijau, mereka bersuka cita
menyambut hujan sore itu. Kami menyusuri lautan aspal dengan arah dan tujuan
yang tak tentu. Hanya ada kami berdua didalam mobil, dia dengan setir bundarnya
dan tatapan-tatapan tajam ke arah keramaian, sedangkan aku duduk manis di jock
sebelah kiri.
Adele-Set Fire to the
Rain ikut meramaikan suasana. Kami
bercengkrama, tertawa bahkan sesekali tersipu malu, obrolan demi obrolan
berlangsung lama. Dan lagi-lagi ada topik pembicaraan yang membuatku kesal, kau
menceritakannya berkali-kali, berulang-ulang dan terus-menerus. Apapun itu, aku
bosan! Aku cemburu! Tapi perasaan itu hanya bisa ku simpan dalam hati. Bisa apa
aku? Toh bukannya dari dulu posisiku seperti ini. Entah nama apa yang cocok
untukku ini, selir? Teman rasa pacar? Atau pelarian? Berkali-kali kau bergonta-ganti
kekasih, namun kau selalu memaksaku untuk bertemu. Bodohnya aku yang selalu
menuruti perintahmu. Rindu, katamu.
Jemarinya membentuk angka
satu, lalu ditempelkannya di bibir. Itu merupakan perintah agar aku tak
bersuara.
“aku lagi nyetir yank,
mau ke rumah temen, sendirian kok. Kamu dimana? Ntar aja telpon lagi yaa...”
Rupanya sang pujaan hati
baru saja menelpon. Untuk sementara ini mereka dipisahkan oleh jarak, kekasihnya
berpulang ke Makassar, tempat kelahirannya. Dia adalah seorang perantau ilmu di
surabaya. Mungkin karena itu dia merasa kesepian, lalu akulah yang menjadi
pelarian.
Kita mau kemana lagi?
Jemput mama pulang
kerja, nanti kamu pindah kursi belakang yaa
Oke boss!
Nampak sosok wanita
cantik dengan kerudung berwarna coklat, berjalan menghampiri mobil yang aku
tumpangi. Di bukanya pintu mobil, dan kami saling tatap. Senyumnya mengembang. Beliau
tak heran dengan adanya tubuhku di dalam mobil, karena beliau sudah tak asing
dengan pertemanan konyol kami. Tak lama kemudian sampailah disebuah rumah
berpagar hitam, wanita itu turun dan masuk ke dalam rumah. Kemudian kami
melanjutkan perjalanan yang tak berarah.
Di arahkannya setir ke
suatu tempat, lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar