Minggu, 17 Februari 2013

Lalu


Rintikan air hujan membasahi kaca mobil, wiper tak kunjung henti menari ke kanan dan ke kiri. Pepohonan di tepi jalan semakin terlihat hijau, mereka bersuka cita menyambut hujan sore itu. Kami menyusuri lautan aspal dengan arah dan tujuan yang tak tentu. Hanya ada kami berdua didalam mobil, dia dengan setir bundarnya dan tatapan-tatapan tajam ke arah keramaian, sedangkan aku duduk manis di jock sebelah kiri.

Adele-Set Fire to the Rain ikut meramaikan suasana. Kami bercengkrama, tertawa bahkan sesekali tersipu malu, obrolan demi obrolan berlangsung lama. Dan lagi-lagi ada topik pembicaraan yang membuatku kesal, kau menceritakannya berkali-kali, berulang-ulang dan terus-menerus. Apapun itu, aku bosan! Aku cemburu! Tapi perasaan itu hanya bisa ku simpan dalam hati. Bisa apa aku? Toh bukannya dari dulu posisiku seperti ini. Entah nama apa yang cocok untukku ini, selir? Teman rasa pacar? Atau pelarian? Berkali-kali kau bergonta-ganti kekasih, namun kau selalu memaksaku untuk bertemu. Bodohnya aku yang selalu menuruti perintahmu. Rindu, katamu.

Jemarinya membentuk angka satu, lalu ditempelkannya di bibir. Itu merupakan perintah agar aku tak bersuara.
“aku lagi nyetir yank, mau ke rumah temen, sendirian kok. Kamu dimana? Ntar aja telpon lagi yaa...”
Rupanya sang pujaan hati baru saja menelpon. Untuk sementara ini mereka dipisahkan oleh jarak, kekasihnya berpulang ke Makassar, tempat kelahirannya. Dia adalah seorang perantau ilmu di surabaya. Mungkin karena itu dia merasa kesepian, lalu akulah yang menjadi pelarian.

Kita mau kemana lagi?
Jemput mama pulang kerja, nanti kamu pindah kursi belakang yaa
Oke boss!

Nampak sosok wanita cantik dengan kerudung berwarna coklat, berjalan menghampiri mobil yang aku tumpangi. Di bukanya pintu mobil, dan kami saling tatap. Senyumnya mengembang. Beliau tak heran dengan adanya tubuhku di dalam mobil, karena beliau sudah tak asing dengan pertemanan konyol kami. Tak lama kemudian sampailah disebuah rumah berpagar hitam, wanita itu turun dan masuk ke dalam rumah. Kemudian kami melanjutkan perjalanan yang tak berarah.

Di arahkannya setir ke suatu tempat, lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar