“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”
Entah keberapakalinya suara itu terdengar dari ujung
ponselku. Kamu menghilang, entah siapa yang membawamu pergi. Angin? Badai? Atau
wanita lain?
Apakah engkau masih mengingatku? Aku, yang beberapa hari
lalu kau buat terbang. Aku, yang penuh dengan gengsi karena waktu. Aku, yang
mencintaimu meski aku sendiri tak tahu apakah cinta yang kau semaikan itu tulus
adanya. Aku, dengan segala jawaban atas pertanyaanmu dahulu.
Kau meninggalkanku dengan sejuta tanya, kau biarkan aku
melamun bersama hembusan angin malam. Padahal aku sudah menyiapkan jawaban
untuk pertanyaanmu yang telah lalu.
“Iya, aku juga mencintaimu.”
Kepada siapa aku akan mengutarakan isi hati? sedang dirimu
menuli.
Kepada siapa aku akan mencintai? Sedang dirimu pergi.
Aku bertanya kepada kompas, namun ia tak tahu arah
kepergianmu.
Aku bertanya kepada peta, ternyata ia juga tak tahu letak
denyut nadimu.
Adakalanya kita harus menyesal telah memperumit keadaan,
yang awalnya mencinta menjadi mengamati dikarenakan gengsi. Terlalu cepat
katanya...
Mantap! :D
BalasHapusBeruntung orang yang ada dalam sajak ini, lebih beruntung lagi jika ia membacanya. :)